SURABAYA pernah menjadi salah satu kota paling modern di Asia pada abad ke-19, sejajar dengan Singapura, Hong Kong, dan Shanghai yang hari ini masih mempertahankan status tersebut.
Hal itu diungkap oleh Howard W Dick, sejarawan ekonomi di Universitas Melbourne, dalam Surabaya, City of Work (2002). Saat itu industri gula sedang berkembang pesat di timur Jawa, dan Surabaya berfungsi sebagai gerbang ekspor.
Namun, Surabaya kehilangan nilai strategisnya pada 1930-an seiring Depresi Besar yang turut meruntuhkan industri gula. Ia makin terbenam pasca-kemerdekaan Indonesia, tertinggal oleh Jakarta yang menjadi ibu kota.
Surabaya pun menjadi “a city of decay”, kota kemerosotan, sebagaimana ditulis Dick.

Catatan Dick masih relevan untuk menggambarkan situasi Surabaya hari ini.
Kota ini menempati peringkat ke-150 dari 173 kota dalam Indeks Kelayakan Huni Global 2025. Skornya hanya 57,1 dari 100, lebih rendah daripada nilai rata-rata 76,1.
Terlepas dari statusnya sebagai kota metropolitan dan kota kedua terbesar di Indonesia, per Agustus 2025, hampir 80.000 warga Surabaya menganggur, termasuk sekitar 14.000 lulusan perguruan tinggi.
Pada saat yang sama, lebih dari 105.000 orang berstatus miskin dan harus bertahan dengan kurang dari Rp 775.000 per bulan.
Keadaan inilah yang mendasari pembentukan SurabayaBaru.id.
Secara garis besar, SurabayaBaru.id adalah sebuah organisasi berita yang dikelola jurnalis profesional dengan cakupan daerah liputan di Surabaya dan sekitarnya, mirip media lokal pada umumnya.
Bedanya, kami meyakini bahwa masa depan Surabaya adalah milik kita yang muda.
Masalahnya, suara kita justru sering tak terwakilkan di media. Karena itulah SurabayaBaru.id memilih untuk fokus pada isu-isu yang dekat dengan kehidupan arek-arek yang setiap hari harus bersiasat hanya demi bertahan hidup di kota ini.
Isu-isu yang kami maksud bukan akal-akalan londo ireng, melainkan keresahan yang nyata. Ini terungkap dalam survei mandiri yang kami laksanakan pada Maret–April 2026.
Dari 411 responden yang hampir semuanya berusia 16–35 tahun, 63,7 persen berpenghasilan di bawah UMR (upah minimum regional), termasuk para karyawan swasta di Surabaya Raya. Ini bikin daya beli kita lemah.
Soal mobilitas, 74,9 persen tak puas dengan sistem transportasi umum di Surabaya. Sejak 2018, kota ini cuma punya 56 bus di empat koridor dan 100-an mobil di 11 rute feeder (pengumpan), jauh dari cukup untuk melayani jutaan warga.
Kita terus-terusan dipaksa menggunakan kendaraan pribadi. Kualitas udara Surabaya pun menjadi buruk, dengan konsentrasi polutan PM2.5 yang jauh di atas ambang batas aman.
Pada saat yang sama, memiliki rumah sebagai tempat berlindung dari ganasnya kota bukanlah perkara mudah. Harga rumah tipe 36 di Surabaya hari ini bisa melampaui Rp 1 miliar karena pengadaannya diserahkan kepada pengembang real estat yang berorientasi pada profit.
Harga tersebut tak sebanding dengan pengeluaran per kapita kita yang hanya Rp 3,12 juta per bulan.
Masih banyak lagi masalah di kota ini, dari juru parkir liar, rasisme, sampah, sampai kurangnya ruang publik yang nyaman dan gratis. 79,3 persen responden survei kami ingin masalah-masalah ini lebih sering dibahas dalam pemberitaan.
Berangkat dari statistik tersebut, SurabayaBaru.id ingin menjadi wadah penampung keresahan arek-arek, membahas masalah kota secara gamblang, dan mewacanakan solusi yang masuk akal demi menjamin masa depan kita.
Singkatnya, SurabayaBaru.id mengundang kamu untuk membayangkan dan menyuarakan Surabaya yang baru – Surabaya versi kita yang lebih layak huni.
Bagaimana kami bekerja?
Selama enam sampai 12 bulan ke depan, SurabayaBaru.id akan menawarkan lima rubrik:
- Surabaya: isu-isu lokal yang relevan
- Nasional: dampak isu atau kebijakan nasional di Surabaya
- Daya Warga: inisiatif warga untuk mengupayakan kebaikan
- Rasa Lokal: ulasan dan rekomendasi kuliner Surabaya
- Ngeluyur: ide tempat dan kegiatan rekreasional
Kelima rubrik ini menunjukkan bahwa kami tak hanya ingin membahas masalah, tetapi juga menyebarkan optimisme dan inspirasi sembari merayakan kekayaan kultural Surabaya.
Semua berita dapat diakses sepenuhnya di website serta akun @surabayabaruID di Instagram, Threads, X, dan TikTok. Ini karena kami percaya bahwa kesetaraan akses informasi sangat penting bagi kehidupan berdemokrasi, termasuk di tingkat lokal.

Soal pembiayaan, untuk sementara SurabayaBaru.id masih bergantung pada dana pribadi. Jumlahnya sangat terbatas.
Kami pun tak dapat memungkiri bahwa jer basuki mawa beya. SurabayaBaru.id butuh dukungan finansial untuk terus menghasilkan jurnalisme berkualitas.
Karena itu, kalau nantinya kamu menyukai kerja jurnalistik kami, kamu bisa memberi dukungan dengan nyawer di saweria.co/surabayabaruid.
Tentu kami tak mau selamanya hanya bergantung pada saweran. Maka, SurabayaBaru.id berencana mengundang kamu untuk bergabung menjadi anggota (member). Keanggotaan itu akan memberikanmu kewenangan untuk ikut menentukan arah kebijakan redaksi.
Rencana ini berakar pada satu-satunya cita-cita SurabayaBaru.id sebagai organisasi berita, yaitu menjadi mediane arek-arek.